Langganan Arttikel

silahkan masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

Followers

Komentar Terbaru

Monday, 27 December 2010

Falsafah Pedagang Bakso

Tak hanya dalam peristiwa besar, tak hanya dalam sebuah teori, dalam kehidupan biasa-biasa saja, jika kita bisa memahami sebuah pembelajaran hidup banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh. Berikut adalah sebuah kisah nyata dari anggota grup PMI yaitu Ibu Novi Setyo Rini yang mengingatkan mengapa kita harus pantang menyerah sebelum mencapai tujuan, baik itu dalam tujuan kecil maupun tujuan besar.

JUDUL CERITA : FALSAFAH PEDAGANG BAKSO

Hari ini aku mengalami kejadian yang mengingatkanku pada falsafah pedagang bakso...

Sebelum aku lanjutkan, agar tidak terjadi salah tafsir, aku perjelas "pedagang bakso" di sini adalah tokoh representatif yang mewakili seluruh pedagang (istilah kerennya: pekerja nonformal) yang menawarkan dagangan/jasanya yang mendorong gerobaknya atau memikul dagangannya (bisa juga mengayuh sepedanya) berkeliling keluar masuk kampung (bisa termasuk pedagang mie ayam, siomay, sales, dll), bukan yang mangkal di warung-warung ya...

Ceritanya begini...

Hari ini, jam 09.45 aku buru-buru keluar dari SMP tempatku mengajar di Kebumen, karena jam 10.25 aku harus mengajar di sekolah keduaku di Karanganyar. Waktuku sempit, harus pulang dulu ke rumah naik balikin sepeda, jalan nyegat angkot dst. Padahal waktu tempuh angkot sekitar 25 - 35 menit. Apalagi pada jam-jam tidak sibuk begini, angkot pastilah berjalan pelan karena sambil mencari penumpang. Tapi, alhamdulillah aku belum pernah terlambat.

Angkot 1 datang. Seperti dugaanku, angkot berjalan pelan. Dan seperti naik mobil pribadi, hanya aku satu-satunya penumpang angkot itu. Aku sempat berdoa agar ada penumpang lain naik. Kasihan, masa' untuk mengantarkanku seorang sejauh itu Pak Sopir dan keneknya hanya mendapat Rp 2000,00? Lagipula syerem juga kan, menjadi satu-satunya perempuan bersama dua pria asing. Kadang pikiran aneh melintas, kalau supirnya ngawur, ngebut, membawaku ke daerah asing dan... dan... TIDAAAAK!!! (Hi.3x Parno banget yach?). Tapi untunglah, Allah melindungiku.

Hingga akhirnya... Pak Sopir tak tahan lagi. Karena tak jua mendapatkan tambahan penumpang, setelah menempuh dua pertiga perjalananku, dia menurunkanku. Aku harus naik angkot berikutnya. Tapi untungnya, aku tak perlu membayar lagi karena kenek angkot 1 memberikan Rp 1.000,00 kepada kenek angkot 2.

Pada sisa sepertiga perjalananku, angkot 2 mendapat tambahan 5 penumpang. Aku berpikir... Seandainya Pak Sopir 1 sabar sedikit lagi, ia akan mendapatkan penumpang. Tapi aku sadar, rizki tiap orang sudah diatur Yang Maha Kuasa, tapi juga tak akan datang begitu saja tanpa kita mengusahakannya.

Tiba-tiba aku teringat Falsafah Pedagang Bakso... Pedagang bakso tidak pernah menyerah berusaha. Meski ia tidak mendapat pembeli, ia tidak putus asa. Dia terus mendorong gerobak baksonya, dengan harapan ada pembeli di ujung jalan di depannya. Kalaupun tidak ada, ia akan terus mendorong gerobak baksonya dengan harapan yang sama, barangkali di depan sana, barangkali di depan sana... Hingga tak terasa jarak yng ditempuhnya sudah berpuluh-puluh kilometer...

Begitu jualah hendaknya kita sebagai manusia. Jangan pernah menyerah. Kalaupun apa yang kita harapkan belum terpenuhi, tetaplah berusaha karena siapa tahu, apa yang kita harapkan sudah menanti di depan kita. Terkadang hanya masalah waktu sebagai penguji kesabaran kita.

THERE'S A TIME FOR EVERYTHING...
Segala sesuatu ada waktunya
Semua akan terasa indah pada waktunya


Original post by: Novi Setyo Rini
Continue reading...

Thursday, 23 December 2010

Ketika Mereka Membuang Uang 20%

Dalam satu ceramah, Aa Gym pernah melontarkan guyonan begini. Di sebuah pabrik rokok, si manajer bertanya kepada sang pemilik.
“Bapak kan pemilik pabrik rokok ini.”
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Kok Bapak tidak merokok?”
“Kamu nggak bisa baca, ya? Di bungkus rokok kan sudah tertulis, rokok itu merusak kesehatan. Yang rusak bisa macem-macem.”
“Tapi, kenapa Bapak malah jualan rokok?”
“Kamu belum tahu, ya? Rokok itu kan untuk orang yang nggak bisa baca!”
“Oo, begitu. Jadi, bakar rokok itu tidak baik, ya Pak?
“Kamu ini gimana sih? Justru, bakar rokok itu baik. Malah kalau bisa, seluruh rokok itu dibakar, dimusnahkan! Cuma, jangan sampai dihisap!”
Hehehe!

Yang mengenaskan dan mencemaskan, menurut survey nasional Lembaga Demografi FE UI, satu dari dua rumah tangga miskin Indonesia, mengalokasikan 12 sampai 20 persen pendapatannya untuk rokok. Bayangkan, 20 persen untuk rokok! Kalau 20 persen untuk sedekah? Hehehe, alasannya segerobak. Harus ikhlaslah, banyak kebutuhan-lah, jangan berlebih-lebihan-lah. Padahal kalau saja mereka mau merutinkan 20 persen untuk sedekah, kami yakin mereka akan keluar dari kemiskinan. Seketika!

Saran kami bagi perokok: kurangi deh. Terus, tetapkan kapan Anda akan total berhenti merokok. Kalau tidak ditetapkan, itu cuma jadi angan-angan. Ready? :)

By Ippho Santosa
Continue reading...

Saturday, 6 November 2010

Dony dan Impiannya

Lorong panti. Senyap. Dinding putih dan bangku panjang. Sunyi. Begitulah saat saya pertama kali bertemu dengan Donny.


“Beli kartunya dong Kak,” pintanya saat itu. Donny, tampak menarik tangan saya dan memamerkan beberapa kartu ucapan di tangannya. Ada 5 buah, kartu-kartu mungil yang dibungkus plastik transparan. Ada sebuah kartu yang sederhana, dengan hanya satu gambar bunga di depannya. Telihat garis-garis sejajar, mungkin melambangkan tanah. Kelopak-kelopaknya tampak merekah, dengan tangkai yang sangat panjang. Dia bilang, kartu-kartu itu adalah buatannya sendiri. Saya ambil satu, dan dia pun tersenyum.


Donny, adalah sama dengan remaja lainnya. Dia suka mendengarkan musik, main basket, dan tentu saja, menyukai remaja lawan jenisnya. Namun, yang membedakannya mungkin hanya karena dia adalah penderita Down Syndrome, ditambah dengan gangguan Cerebral Palsy. Tangannya, sering bergerak tak menentu. Bicaranya tak jelas, disertai dengan lonjakan-lonjakan kepala yang intens.


Kartu mungil itulah yang menjadi awal kami berbicara. Saya mulai bertanya kabarnya, dan dia menjawab baik-baik saja. Tangannya mulai bergerak spastis. Kursi roda yang didudukinya bergeser. Tak lama kemudian, mulailah ia bercerita tentang apa yang dirasakannya. Ia ingin sekali punya seperangkat alat musik. Ia ingin punya gitar, dan piano agar dapat bernyanyi setiap hari.


Setiap minggu, dikunjunginya gereja di depan panti, dan ditawarkannya kartu buatannya itu kepada para jemaat. Sebagai seorang Nasrani, Donny juga kerap menyumbangkan suaranya disana. Dia lalu juga bercerita bahwa dia sudah mengumpulkan uang sebanyak 500 ribu, hasil dari kartu-kartu buatannya. Dengan uang itu, ia berniat untuk membeli piano. Ah, dia tampak bersemangat sekali.


Larik-larik cahaya sore yang menembus jendela yang terbuka setengah. Cahaya itu menimpa tubuhnya, dan ah, kini ia tampak bersinar. Tangannya kembali bergerak tak menentu, dan kepalanya masih melonjak-lonjak. Dia menjadi teman yang menyenangkan sore itu. Kami juga bercanda, dan saling bertepuk tangan. Kami membuat suara-suara aneh, hingga membuat kami sendiri tergelak tertawa. Padahal cuma ada kami berdua yang ada di koridor panjang itu.


Lorong panti. Senyap. Dinding putih dan bangku panjang. Sunyi. Begitu pula saat saya meninggalkan Donny bersama dengan beragam pemikiran (dan pelajaran tentang ketegaran yang diberikannya).


***

Saya kagum dengannya. Walaupun tak sempurna, tak kurang semangatnya untuk menjalani hidup. Kita mungkin paham, dengan uang 500 ribu, gitar dan piano macam apa yang akan didapatkannya. Mungkin tak satupun. Tapi itulah kita. Dan kita bukan Donny. Uang itu berarti segalanya buat dia.


Kita mungkin akan berkata kepadanya, “sudahlah Donny, kamu tak akan bisa menjadi pemusik dengan keadaan seperti ini” Kata-kata itu mungkin yang akan terlintas di benak kita. Tapi itulah kita. Dan kita bukan Donny. Kata-kata itu seringkali tak berarti baginya.


Teman, kita mungkin sering pesimis dalam hidup ini. Walaupun dengan keadaan yang sangat jauh berbeda dengan Donny, kita kerap tak bersemangat dalam hidup. Bisa jadi, tak ada bara-bara api semangat yang membakar dalam dada. Bisa jadi, tak ada derap-derap langkah yang menghentak menuju kemenangan.


Namun, maukah kita menjadi orang-orang yang pesimis? Maukah kita menjadi orang-orang yang menyerah, terkapar di tengah perjalanan hidup ini? Jangan. Jangan biarkan bara-bara itu redup dalam hatimu. Jangan biarkan derap-derap itu melunak dalam jiwamu. Sediakan selalu percik-percik api walau sedikit untuk menyalakan semangat itu. Sebab percik api, akan selalu menjadi benih bara api yang berkobar-kobar. Jejakkan kakimu kuat-kuat agar tak goyah jalanmu. Sebab, kaki yang menjejak dalam, akan membuat kita tegap dalam melangkah.


Tataplah kedepan. Pandanglah dengan sorot mata kemenangan. Dengarkan alunan gemuruh irama dalam jiwamu. Biarkan simfoni itu yang mengisi kalbumu. Semoga Allah selalu bersamamu.


Di ceritakan oleh Irfan resensi.net
Continue reading...

Thursday, 21 October 2010

Investor dan Bagi Hasil

Ada seorang Investor MEMBERI MODAL ke kita. SEMUA yg kita butuhkan DIBERIKAN. Anehnya dalam perjanjian bagi hasil, Dia minta keuntungan bersih untuknya "SEBAHAGIAN"... Menurut teman2, kira-kira berapa % "Sebahagian" itu idealnya ?

Ada yang menjawab
Investor berbanding Yg Menjalankan :
50% - 50%
40% - 60%
30% - 70%

Tuhan MEMBERI MODAL ke kita. SEMUA yg kita butuhkan DIBERIKAN. Anehnya dalam Kitab Suci, Dia minta menafkahkan untuknya "SEBAHAGIAN" harta yang kita miliki... Menurut teman2, kira-kira berapa % "Sebahagian" itu idealnya ?

Ada yang buru-buru bilang "Biar sedikit yang penting ikhlas"

hehehe.. tapi kami percaya itu bukan anda.
Lalu berapa idealnya? Yah, bisa dimulai dari 10% untuk belajar dan makin lama makin ditingkatkan.

===
Untuk wawasan baru mengenai sedekah, temukan dalam buku "Ternyata Sedekah Nggak Harus Ikhlas" terbitan Gramedia Group. Tersedia di Toko buku Gramedia seluruh Indonesia

"Buku ini mencerahkan! Yang membuat Anda kaya sejati!"
Tung Desem Waringin
Pelatih Sukses No.1 Indonesia
Continue reading...

Sunday, 17 October 2010

Sedekah Senyum? Nanti Aja !

Tapi bukankah senyum itu termasuk sedekah?

Ya iyalah, yang bilang bukan sedekah itu siapa? Hehehe!

Sebenarnya cakupan sedekah itu sangat luas, asal katanya dalam bahasa arab berarti “benar” yang maksudnya sesuatu perbuatan yang benar itu termasuk golongan sedekah seperti :

1. Berzikir dan Shalat Dhuha
2. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar / mengajak kebaikan dan mencegah orang lain berbuat keburukan
3. Hubungan Intim Suami Istri
4. Bekerja dan memberi nafkah pada sanak keluarganya
5. Membantu urusan orang lain
6. Mendamaikan dua orang yang berselisih
7. Menjenguk orang sakit
8. Berwajah manis atau memberikan senyuman

Tapi kita disini membicarakan tentang sedekah harta, soalnya banyak sekali yang berlindung dibalik sedekah senyum sehingga menjadi terlalu pelit untuk mengeluarkan harta karena merasa cukup hanya dengan sedekah senyum

Coba lihat ini ;

* Orang yang kelaparan
* Anak Yatim Piatu dan Dhuafa
* Korban bencana alam

Apa jadinya kalau mereka itu kita beri sedekah senyuman? Saya jamin pasti Anda akan dianggap gila kalau tersenyum melihat orang yang kelaparan.

Alangkah lebih baiknya kalau kita bersedekah harta sambil tersenyum, itu baru pas. Sedekah harta saja juga tidak cukup kalau kita memberikannya tidak sambil tersenyum, yang parah lagi kalau sampai mengungkit-ungkit kembali sedekah yang kita berikan sehingga orang yang disedekahi itu merasa sakit hati

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ( Q.S Al Baqarah 262 )

Purdi E Chandra, mentor saya pernah bilang : Sedekah senyum balasannya juga senyum. Sedekah do’a balasannya kita juga didoain malaikat. Tapi kalau sedekah harta, selain dapat balasan harta, kita juga pasti didoakan orang yang kita sedekahi dan diberi senyuman plus ucapan terima kasih. “Wah, benar juga itu” saya pikir.



Marah Adil

Founder Komunitas Pencinta Sedekah

http://www.pencintasedekah.com/



Tulisan ini dimuat dalam buku “Ternyata Sedekah Nggak Harus Ikhlas” terbitan Gramedia Group

Dapatkan bukunya di Gramedia seluruh Indonesia atau SMS ke 0813 7876 0490

Harga Rp.30.000,- diluar ongkos kirim

===

"Cara baru bersedekah! Cepat, bermanfaat, dan berpahala! Caranya? Temukan di buku ini!"

Ippho Santosa
Penulis Mega-Bestseller Seri Otak Kanan
(salah satunya buku 7 Keajaiban Rezeki)

Buku ini mencerahkan! Yang membuat anda kaya sejati!

Tung Desem Waringin
Pelatih Sukses No.1 Indonesia

Buku " Ternyata Sedekah Itu Nggak Harus Ikhlas " muantebzzzz..,jos markojos, sip markisip, top markotop, dan JOQER (Jos + Qeren) PATEN abiz...! :D

Masternya Ayam
Tegal

Isinya tak sebanding dengan harganya. isinya luar biasa.. galakkan sedekah

Slamet Widodo
Solo

mudah di cerna dan ringan, di coba utk di praktekan...Luar Biasa

Ikhsan Badawi
Bandung

'Ternyata Sedekah Ngak Harus Ikhlas' .. membacanya bisa buat orang gila untuk sedekah gila-gilaan.. =).. Muantappp..

Yudha Bestari
Pekanbaru

Waahhh asyik sekali menyimaknya. sangat gamblang dan mudah dicerna, Tidak berbelit-belit dan banyak ilustrasi ceritanya. Masalah utamanya bukanlah " ikhlas " atau tidak, tapi mau memberi atau memilih untuk menerima? segala sesuatunya akan mendatangkan "akibat" sama halnya seperti Surga, apakah menjadi "tujuan" kita atau karena sebuah "akibat" dari perbuatan kita? maka, berilah tanpa berfikir kepada "tujuan" nya. Jadi buku ini tidak perlu dibahas apalagi dibicarakan, tapi lakukan saja pesan yang terkandung di dalamnya.

Naomi Susan
The Young Super Entrepreneur
Author " Be Negative ! "

Sekarang ada ungkapan baru: kalau mau bersedekah, tidak harus ikhlas, lakukan saja, lama-lama juga ikhlas. Masuk akal Ini adalah buku dari berbagai kisah para pejuang sedekah. Terlepas dari ikhlas atau tidaknya motif mereka, namun terbukti, banyak keajaiban dialami oleh para pelakunya

Badroni Yuzirman
Founder Komunitas Tangan Di Atas ( TDA )

Saya merasakan sendiri keajaiban sedekah, begitu juga dengan beberapa klien saya dalam mengobati penyakitnya. Sedekah ini sangat ampuh dan cespleng, paling lama 3 hari langsung dibalas Allah. Tulisan sahabat saya Marah Adil ini sangat inspiratif untuk menemukan solusi bila kita ada masalah apapun. Semoga pembaca buku ini menemukan keajaiban-keajaiban setelah melakukan sedekah

Kusnadi Ikhwani
Pendiri Healing Spiritual Therapy ( HST )

Membaca buku ini menjadikan saya hobi bersedekah. Utama nya adalah mau memberi. Jadi tidak ada ukuran ikhlas nggak ikhlas nya. Maaantaaaab deh.. Perlu dibaca berulang kali buat yang belum mencintai sedekah.

Rina Chas / Onyai Chas
Owner PT.Arofah Galang Mulia ( Travel & Religious Tourism ) -
Saudi Arabia
Continue reading...
 

ide bisnis

Instant Internet Business Ideas

Master SEO

Panduan 28 Hari Menguasai SEO

MOHAN BLOG Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts